Sungai Asahan Meluap, Kota Tanjungbalai Dilanda Banjir Meluas

Luapan Sungai Asahan menyebabkan banjir meluas di Kota Tanjungbalai. Sejumlah wilayah pemukiman dan akses jalan terendam, sementara warga dan petugas mulai melakukan upaya penanganan serta evakuasi.

Kota Tanjungbalai kembali diterjang banjir setelah Sungai Asahan meluap akibat intensitas hujan tinggi yang terjadi dalam beberapa hari terakhir. Debit air yang meningkat secara cepat membuat sejumlah kawasan pemukiman terendam, bahkan beberapa titik jalan protokol ikut lumpuh karena tinggi genangan yang mencapai lutut hingga pinggang orang dewasa. Kondisi ini menambah daftar panjang wilayah Sumatera Utara yang terdampak banjir di musim penghujan tahun slot.

Luapan Sungai Asahan terjadi pada dini hari ketika sebagian besar warga sedang beristirahat. Banyak warga mengaku terkejut setelah bangun pagi dan mendapati halaman rumah sudah tergenang air. Beberapa keluarga bahkan tidak sempat menyelamatkan barang-barang penting karena arus air masuk dengan cukup cepat melalui celah pintu dan lantai rumah. Kondisi tersebut membuat masyarakat harus sigap mengamankan dokumen penting, elektronik, serta perabotan agar tidak terkena air lebih dalam.

Area yang terdampak paling parah berada di pemukiman padat penduduk dekat tepi sungai. Selain itu, sejumlah fasilitas umum seperti sekolah, rumah ibadah, dan pasar tradisional juga mengalami hambatan beroperasi. Para pedagang yang biasanya memulai aktivitas jual beli sejak dini hari terpaksa menunda kegiatan karena kios mereka terendam. Barang dagangan basah seperti sayuran, ikan, dan daging mengalami kerusakan dan menyebabkan kerugian yang tidak sedikit.

Aktivitas transportasi juga terkena dampak besar. Beberapa jalan penghubung utama menuju inti kota tidak dapat dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat. Pengendara terpaksa mencari jalur alternatif atau menunggu hingga air surut. Kondisi jalan yang dipenuhi lumpur membuat risiko kecelakaan meningkat, sehingga petugas kepolisian serta relawan masyarakat turun ke lapangan untuk mengatur arus dan membantu warga yang kesulitan akses.

Pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tanjungbalai langsung bergerak cepat setelah menerima laporan banjir meluas. Mereka mendirikan posko darurat di beberapa titik untuk memantau situasi, membantu proses evakuasi, dan menyediakan kebutuhan darurat bagi warga terdampak. Perahu karet dikerahkan untuk mengevakuasi lansia, anak-anak, serta warga yang rumahnya terendam hingga ke dalam. Beberapa balai pertemuan dan gedung sekolah dijadikan lokasi pengungsian sementara.

Kondisi air yang keruh dan mengalir membawa lumpur membuat kekhawatiran warga mengenai potensi penyakit semakin meningkat. Petugas kesehatan dari puskesmas setempat memberikan imbauan agar warga menghindari kontak terlalu lama dengan air banjir guna mencegah penyakit kulit maupun infeksi. Selain itu, warga diingatkan untuk memastikan ketersediaan air minum aman karena air bersih menjadi salah satu kebutuhan paling krusial selama banjir.

Di sisi lain, banjir meluas ini kembali menyoroti persoalan klasik terkait pengelolaan sungai dan kondisi drainase di sekitar Tanjungbalai. Warga menilai bahwa luapan Sungai Asahan kerap terjadi setiap musim hujan, tetapi penanganan struktural di hulu sungai dan kawasan tanggul belum memberikan hasil maksimal. Program pengerukan sungai yang sebelumnya pernah dilakukan dinilai belum cukup untuk mengatasi lonjakan debit air yang datang secara tiba-tiba ketika hujan deras mengguyur kawasan pegunungan.

Warga juga mengeluhkan tumpukan sampah yang sering menyumbat saluran pembuangan. Ketika aliran air besar datang dari hulu, sampah tersebut memperparah penyempitan aliran dan menyebabkan genangan lebih cepat terbentuk. Gotong royong warga membersihkan drainase mulai digalakkan, tetapi upaya mandiri itu tidak dapat menangani seluruh aliran sungai yang membentang cukup luas.

Hingga siang hari, beberapa titik mulai menunjukkan penurunan genangan, tetapi air belum sepenuhnya surut di kawasan yang berada di cekungan rendah dekat tepi sungai. Kondisi cuaca yang masih tidak menentu membuat warga tetap siaga menghadapi kemungkinan banjir susulan. BPBD bersama aparat kepolisian dan TNI siaga memantau perkembangan air sungai dari hulu untuk mengantisipasi perubahan debit yang berpotensi terjadi sewaktu-waktu.

Musibah banjir yang terjadi di Tanjungbalai ini menjadi peringatan bahwa sistem pengendalian air dan tata kelola lingkungan harus ditingkatkan secara serius. Pemerintah daerah didorong mempercepat pembangunan infrastruktur mitigasi banjir seperti tanggul permanen, normalisasi sungai, hingga penguatan sistem drainase kota. Kolaborasi warga, pemerintah, dan pihak terkait sangat dibutuhkan untuk mencegah bencana serupa terjadi di masa mendatang.

Meski situasi menantang, semangat saling membantu antara warga dan relawan terlihat jelas di lapangan. Banyak masyarakat yang bersedia membantu memindahkan barang, menyediakan makanan, atau menyumbangkan tenaga bagi warga yang lebih membutuhkan. Kebersamaan ini menjadi harapan bahwa Tanjungbalai akan mampu pulih lebih cepat dari musibah banjir dan kembali menjalani aktivitas secara normal setelah air benar-benar surut.