Hujan deras yang mengguyur Medan selama berjam-jam menyebabkan banjir di sejumlah kecamatan. Aktivitas warga terganggu, sementara petugas diterjunkan untuk menangani genangan dan memantau wilayah terdampak.
Hujan deras yang mengguyur Kota Medan selama berjam-jam kembali menyebabkan banjir di sejumlah kecamatan. Intensitas curah hujan yang tinggi sejak dini hari membuat permukiman warga, jalan utama, hingga kawasan perdagangan terendam air dengan kedalaman bervariasi. Situasi ini menimbulkan kepadatan lalu lintas dan mengganggu aktivitas masyarakat yang harus berhadapan dengan genangan cukup tinggi di beberapa titik.
Beberapa kecamatan yang terdampak banjir antara lain Medan Johor, Medan Selayang, Medan Maimun, Medan Barat, dan sebagian wilayah Medan Amplas. Di kawasan tersebut, air merendam rumah warga mulai dari setinggi mata kaki hingga mencapai lutut orang dewasa. Banyak warga mengaku kesulitan beraktivitas karena air masuk ke dalam rumah lebih cepat dibanding biasanya. Beberapa sekolah dan tempat usaha memilih menunda jam operasional karena kondisi lingkungan tidak memungkinkan untuk beraktivitas normal spaceman.
Menurut keterangan warga setempat, banjir terjadi tidak lama setelah hujan deras mengguyur tanpa henti. Banyak dari mereka yang menyebut bahwa sistem drainase di beberapa kawasan tidak mampu menampung volume air yang tinggi. Saluran air cepat penuh, dan akhirnya meluap ke jalan utama serta permukiman. Fenomena banjir ini sebenarnya sudah cukup sering terjadi ketika hujan deras berlangsung lama, tetapi kali ini intensitasnya terbilang lebih parah dibanding minggu-minggu sebelumnya.
Di beberapa ruas jalan utama, banjir menyebabkan kemacetan panjang. Kendaraan kecil kesulitan melintas karena tingginya genangan, sehingga banyak pengendara terpaksa memutar mencari jalur alternatif. Jalan Brigjen Katamso, Jalan Mongonsidi, dan sebagian ruas Jalan Letda Sujono menjadi titik yang paling banyak dilaporkan mengalami kelumpuhan lalu lintas. Pengemudi ojek online hingga transportasi umum mengeluhkan kondisi jalan yang tidak dapat dilewati dengan cepat, membuat perjalanan menjadi lebih lama dari biasanya.
Sementara itu, petugas dari BPBD Kota Medan bersama dinas terkait langsung diterjunkan ke lapangan untuk memantau kondisi banjir. Mereka berupaya mengarahkan lalu lintas, membantu warga yang terdampak, serta memastikan tidak ada genangan yang membahayakan. Beberapa titik drainase dibuka secara manual untuk mempercepat aliran air, terutama di lokasi yang airnya tidak kunjung surut. Selain itu, pompa portabel dipasang di beberapa kawasan rawan banjir untuk membantu mempercepat penurunan air.
Di permukiman yang terdampak cukup parah, warga mulai mengamankan barang-barang penting ke tempat lebih tinggi agar tidak rusak. Sebagian warga yang rumahnya berada di daerah cekungan memilih mengungsi sementara ke rumah kerabat atau tempat yang lebih aman. Ada juga laporan rumah warga yang mengalami kerusakan pada bagian perabotan dan peralatan elektronik akibat terendam air sejak dini hari tadi.
Fenomena banjir ini juga memunculkan kekhawatiran mengenai kesiapan infrastruktur kota dalam menghadapi curah hujan ekstrem. Banyak warga menilai bahwa perbaikan dan pelebaran drainase perlu segera dilakukan agar banjir tidak terus berulang setiap musim hujan tiba. Sampah yang menumpuk di saluran air juga menjadi salah satu faktor penyebab tersumbatnya aliran air. Fenomena ini menunjukkan bahwa peran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan menjadi sangat penting untuk mencegah banjir serupa terulang di masa depan.
Sementara itu, pihak kelurahan dan kecamatan sudah mulai mendata warga yang terdampak. Pendataan ini dilakukan untuk memastikan bantuan dapat diberikan kepada mereka yang mengalami kerugian akibat banjir. Meski belum ada laporan korban jiwa, kerugian material cukup dirasakan warga, terutama mereka yang tinggal di kawasan rendah yang sering menjadi langganan banjir.
Situasi cuaca yang tidak menentu membuat warga diimbau untuk selalu waspada, terutama bagi mereka yang tinggal di bantaran sungai maupun daerah cekungan. Intensitas hujan diperkirakan masih tinggi dalam beberapa hari ke depan sehingga potensi banjir susulan tetap ada. Warga diminta untuk mengawasi kondisi lingkungan sekitar, menjaga kebersihan saluran air, dan segera melaporkan ke pihak terkait apabila terjadi peningkatan genangan air.
Banjir yang kembali melanda Medan menjadi pengingat bahwa pengelolaan tata kota dan drainase perlu mendapat perhatian besar. Dengan penanganan yang lebih efektif dan kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan, diharapkan peristiwa serupa dapat diminimalisir. Untuk saat ini, upaya bersama antara pemerintah, petugas lapangan, dan warga menjadi kunci utama agar aktivitas kota dapat kembali berjalan normal secepat mungkin.
